Konflik Timur Tengah picu kenaikan harga energi, dampaknya mulai terasa di RI
Konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga energi dunia. Bagi Indonesia, dampaknya memang tidak langsung, tetapi dapat dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang dan biaya hidup.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, hubungan dagang Indonesia dengan kawasan Timur Tengah relatif kecil. Ekspor ke wilayah tersebut hanya sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional, sedangkan impor sekitar 3,9 persen dan didominasi energi.
Namun, bukan berarti Indonesia bebas dari dampak. Tekanan justru datang dari jalur tidak langsung, terutama kenaikan harga minyak dunia dan biaya logistik.
Head of Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani mengatakan, situasi di Timur Tengah terus dipantau, terutama terkait jalur distribusi energi global. “Kami mencermati kondisi di Selat Hormuz karena jalur ini sangat penting bagi perdagangan minyak dunia,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).
Selat Hormuz dilalui sebagian besar distribusi minyak global. Jika jalur ini terganggu, harga energi dapat langsung naik. Dampaknya kemudian menjalar ke berbagai sektor.